Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Part 16

Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Part 16

Pada kesempatan kali ini Shania akan membagikan cerita kelanjutan dari novel Hinaan dari Keluarga Suami Part 16. Pasti penasaran dengan novel karya Rita Febriyeni dengan judul hinaan dari keluarga full episode ini kan?

Memang benar novel Hinaan dari Keluarga Suami Part 16 ini sangat diminati dan dicari oleh para pecinta novel karena lagi trending. Nah, jika kalian juga ingin membacanya silahkan simak ulasan berikut.

Tentang Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Part 16

Novel Hinaan dari keluarga suami Part 16 ini menceritakan sebuah kehidupan rumah tangga yang cukup tabah dalam menghadapi hinaan dari keluarganya sendiri lebih-lebih mertuanya yang selalu menjelek-jelekan dan selalu salah di mata mertua tersebut. Kita bisa mengambil pelajaran berharga dari cerita novel ini dan harus selalu bersyukur semoga kita tidak mengalami hal seperti yang terdapat dalam novel ini.

Dan pelajaran terpenting dalam kehidupan yang terdapat dalam Novel Hinaan dari Keluarga Suami ini adalah jangan merasa benar, merasa paling kaya, merasa paling pintar, merasa paling berpendidikan dan juga merasa paling ada jabatan.

Sesungguhnya semua itu adalah hanya titipan dari Sang Pencipta semata. Kita harus selalu berbuat baik menghargai dan menghormati sesama.

Nah, jika kalian sudah tidak sabar dengan kelanjutan cerita Novel Hinaan dari Keluarga Suami Part 16 ini, Simak dibawah ini.

Novel Hinaan dari Keluarga Suami Part 16 ( Dihina Berkulit Wajah Kusam )

Menunggu di atas becak motor kelamaan. Mas Bayu pakai acara berdiri di balik dinding pagar seperti enggan untuk masuk. Aneh, kok mas Bayu begitu? Jika kubiarkan, Raka juga semakin lama ditinggal dengan ibu. Kuputuskan untuk mendekati mas Bayu.

“Nah, itu Mpok tau, itu yang kumaksud.” Terdengar ibu mertua bicara. Tak tahu dengan siapa karena aku masih berdiri di belakang mas Bayu.

“Oooh, berarti Rina di sini yang nggak beres. Masak udah ditolong mertua bantu biaya makan tapi balasannya pelit.”

Astaga, itu kan suara mpok Yuyun, tetangga langganan ibu mertua. Jadi mereka membicarakan aku. Aku yakin ibu mertua bicara buruk tentang aku hingga mpok Yuyun menanggapi miring.

“Sebenarnya aku juga malu, Mpok. Bayu cac*t dan nggak ada yang bisa dibanggakan. Ia bisa apa dengan kakinya. Mana ada orang mau nerima Bayu kerja kecuali tukang bersih-bersih.”

Ya Tuhan, ibu mertua bicara seolah mas Bayu bukan dari rahimnya. Malu? Apa ia tak mikir jika ini bukan kehendak suamiku. Pantas mas Bayu berdiri di sini menguping. Pasti ia merasa tertekan atau sedih mendengar ucapan ibunya. Tak bisa didiamkan, jika diam menunggu, urusannya memakan waktu lama.

“Mas ngapain sih berdiri di sini?” Kutepuk pundak mas Bayu. Ia langsung berpaling padaku.

“Ri-Rina?” Mas Bayu gugup terkejut. Seketika matanya membulat sempurna.

“Aku sudah dengar, dari tadi aku berdiri di belakangmu, Mas.” Suaraku sengaja dikeraskan agar ibu mertua dan mpok Yuyun dengar.

“Sini rendangnya biar aku yang berikan.” Kurebut kantong kresek dijinjing mas Bayu.

“Tapi, Rin, tunggu!”

Aku tak peduli dan terus melangkah. Membiarkan masalah berlarut dan masih seputar itu, sangat membosankan. Jika ibunya minta tanggung jawab atau bayaran karena melahirkan suamiku, aku pun punya jawaban membalas kata-katanya. Dan jika aku seperti menantu pelit dan tak tahu terima kasih, aku juga punya jawabannya. Diam dan membiarkan hati sakit tertekan bukan solusinya.

“Rina! Rin!”

Kupalingkan ke belakang, mas Bayu mengejarku.

Kini aku sudah berada di samping mpok Yuyun, tepatnya depan ibu mertua. Mereka terlihat sedikit gelisah dan memasang wajah masam.

“Bu, ini rendang ayam yang dibeli Stela.” Kusodorkan kantong kresek itu pada ibu mertua.

“Loh, kok?” Ia tampak heran menerimanya.

“Iya, tadi bertemu dan ia beli rendang ayam padaku. Katanya minta diantar ke sini.”

“Jadi kamu jualan rendang, Rin?” tanya mpok Yuyun.

“Iya, Mpok. Zaman sekarang kalau tak cari uang sendiri akan selalu terpojokan. Dan banyak yang bilang jika aku dan Mas Bayu beban hidup orang lain. Apakah Mpok Yuyun juga menganggap beban putra-putra Mpok, jika mereka tak mampu atau miskin?”

Sengaja kuperjelas maksud ucapan ibu mertua yang terdengar.

“Oh, nggak lah, Rin. Kalau mereka tak mampu ya ditolong, kalau tak bisa ditolong ya dimaklum.”

“Syukurlah Mpok bisa maklum.”

“Maksudmu apa sih ngomong gitu?” Tiba-tiba ibu mertua meradang.

Ibu mertua yang terhormat, jika punya anak cacat membuatmu malu, aku sebagai istri anakmu tak pernah malu karena aku masih punya hati. Satu hal lagi, kami tinggal di rumah ini kerja seperti pembantu. Menyedihkan bukan? Mas Bayu pembantu di rumah ibunya lantaran ia cacat.”

“Diam! Bukan hakmu berucap semena-mena di rumahku.” Mata ibu melototiku.

“Rina, ayok kita pergi.” Mas Bayu menarik tanganku.

“Bayu, kok gitu, ini kan rumah ibumu?” sapa mpok Yuyun.

“Nggak apa-apa, Mpok. Aku hanya tak ingin berlama-lama di sini agar Ibu tak menanggung malu lebih lama,” jawab mas Bayu seperti meiba.

“Waduh, mereka dengar, Bu Ida,” ujar mpok Yuyun ke ibu mertua.

“Biarin aja, biar mereka tau isi hatiku. Lagian itu benar kok. Mantu pelit dan anak tak tau berterma ksih.”

Ibu mertua bukannya merasa bersalah atau kasihan ke mas Bayu, ia justru semakin kukuh bicara jika yang dikatakannya benar.

“Ada apa sih, Bu? Kok kedengaranya ribut.” Tiba-tiba Inur datang dari arah rumah. Gelagat tak bersahabat, ia melirik miring seakan aku musuhnya.

“Ini, Nur. Tuan putri berotak pintar semakin menujukkan kepintarannya menjawab ucapanku. Baru punya uang dikit aja lagaknya seperti orang kaya.”

“Helooo, tuan putri dari mana sih, Bu? Apa Ibu tak lihat jika mereka bertampang misk*n. Kulit wajah kusam, bau matahari dan baju pun lusuh. Katanya punya uang tapi beli bedak wajah aja tak mampu. Jangan-jangan yang kemarin itu bohong agar ia bisa dihargai.” Inur seperti senang menanggapi ibu mertua. Ibu mertua pun terlihat senang ada pembelaan.

“Jangan gitu, Nur. Rina tetap istri adik iparmu,” tegur mpok Yuyun.

“Hey Mpok Yuyun, aku tu malu ya jika mengakui mereka adik ipar. Tampang miskin begini cocoknya tetap bab. Lagian nih, aku bersyukur mereka pergi karena biaya dapurku tak besar. Sayang dong jika uang disia-siakan gitu aja. Padahal bisa beli krim wajah loh.”

Kuakui Inur berwajah glowing. Perawatan wajah dan kuku, ia seperti istri pejabat. Baju pun bagus-bagus.

“Mpok Yuyun. Inur hanya bilang kenyataan. Kita bisa lihat perbedaan Inur dan Rina. Bagai siang dan malam.”

Deg!

Aku diperbandingkan oleh ibu metua. Tanpa rasa segan ataupun hormat, aku seperti tak berharga.

“Tolong jangan hina istriku, Bu,” bela mas Bayu.

“Jangan minta tolong sesuatu yang tak penting, Mas. Aku nggak tersinggung kok,” sanggahku.

“Rina, maaf ya, aku tak bermaksud gitu. Tapi ….” Mpok Yuyun tak melanjutkan kata-katanya seolah tak enak melihat ke ibu.

“Nggak apa-apa, Mpok. Sekarang bisa lihat gimana mereka menghinaku. Apakah pantas aku berbagi? Lagian dulu aku dan suamiku kerja pembantu di rumah ini. Bahkan makan pun harus menunggu sisa mereka.”

“Diam! Kamu ingin membuat aku tampak buruk? Jangan asal ngoceh,” tegur ibu mertua marah.

“Tegur saja mantu kesayanganmu. Heran deh, ngakunya berpendidikan tapi bahasanya seperti tak pernah sek*lah.”

“Hey! Aku tuh nggak level sama kamu. Kita sama mantu di rumah ini, tapi aku mantu berkelas.” Dengan bangganya Inur berucap.

“Sebaiknya aku permisi dulu.” Lalu mpok Yuyun berlalu pergi. Ia seperti enggan ikut campur lebih dalam.

“Rin, ayok kita pulang.”

“Bentar, Mas. Jangan diam aja kalau kita tak salah.”

“Bayu, jika kamu masih mau tinggal di sini, Ibu tak larang, bagaimanapun juga kamu anakku.”

Mas Bayu terdiam terpana melihat ibunya.

“Iya, aku pun gitu, lagian kami juga butuh tukang bersih.”

“Diam!” Kutunjuk lantang Inur. “Kamu kira kami babumu! Di rumah ini suamiku lebih berhak dari pada kamu. Jaga ucapan, jika masih merendahkan suamiku, maka jangan salahkan aku menckar w”jahmu hingga tak dikenli.”

“Idih, apaan sih. Dasar barbar kamp*ngan!” Nyali Inur langsung menciut hingga ia berlalu dari warung ini secepatnya. Seperti orang takut lari terbirit-birit.

“Nur! Inur!” Teriakan ibu mertua tak dihiraukan.

“Semoga hari tuamu sadar, jika anak bukan beban. Satu hal lagi, tak ada anak yang minta dilahirkan buat balas budi atau harus bayar hutang dilahirkan.”

Kubalikan badan. “Ayok, Mas,” ucapku berlalu pergi.

Tak ada jawaban dari ibu mertua. Kami meninggalkan warungnya tanpa berpaling lagi.

*

Dalam perjalan pulang, tak banyak yang kami bicarakan. Mas Bayu tampak sedih tapi berusaha tegar. Aku tahu ia tak banyak bicara melawan ibunya. Rasa hormat sebagai anak mungkin alasannya. Aku tahu sifat suamiku.

Apakah aku seburuk itu hingga Inur menghina. Wajah kusam dan bertampang miskin? Ya Tuhan, seperti itukah penilaian mereka? Haruskah kubeli krim wajah?

Malamnya, aku berbaring sambil menyusui Raka. Sejak pulang tadi, sengaja tidak membahas masalah kejadian di warung mertua. Semua demi menjaga perasaan mas Bayu. Ibarat pepatah, sudah jatuh ditimpa tangga. Astagfirullah’alaziim.

Sambil menyusui anak, aku pun buka facebook. Posting cerbung di beberapa grup literasi, senangnya bisa berteman dari beberapa penulis senior. Pembaca pun menyapa di kolom komentar. Ini sukanya menjadi penulis recehan.

Saat melihat branda facebook, aku terpana lihat postingan salah satu pembaca setiaku. Ia memposting jualannya yaitu krim wajah agar kulit glowing dan cerah. Harganya pun tiga ratus lima puluh ribu. Jika dilihat dari hasil menulis, itu cukup terjangkau. Teringat hinaan Inur, hingga kuberanikan kirim pesan messenger.

[Wa’alaikumsalam, Kak Author. Senangnya bisa ngobrol. Iya, Kak, aku jual krim wajah merek R*krim. Fungsi buat mencerahkan kulit, bikin glowing dan menunda penuaan dini]

jawabnya kusapa di messenger menayakan barang jualannya.

Kami bicara panjang lebar di messenger. Ia penjual yang sudah membuktikan barang jualannya. Ia cantik dan glowing. Apakah efek kamera ponsel atau benar karena krim. Dan hasilnya, ia mau memberikan secara gratis satu paket lengkap dengan harga lima ratus lima puluh ribu, karena ia menyukai cerbungku. Dan jika aku tertarik, ia menawarkan buat jadi reseller.

Ya Tuhan, mudah-mudahan ini jalannya. Dan aku sangat tertarik dengan tawarannya. Merawat wajah sambil berbisnis. Bismillah ….

[Ya, Kak. Aku bersedia. Alhamdulillah, terima kasih, Kak] balasan messenger dariku.

Satu paket lengkap bisa kuterima gratis. Alhamdulillah …, semoga bisniku lancar, Aamiin.

Cara Membaca Novel Hinaan Keluarga Full Episode

Nah, cerita dari novel Hinaan keluarga Part 16 sudah selesai, sekarang tentunya kalian masih penasaran dengan cerita full chapter dari novel ini kan?

Untuk membaca cerita novel ini hingga full episode, maka bisa mendapatkannya melalui aplikasi Fizzo yang bisa di unduh melalui Play Store ataupun App Store. Caranya mudah:

Baca Juga: Novel HINAAN DARI KELUARGA SUAMI Part 5

Silahkan Download dan instal aplikasi fizzo di HP yang kalian miliki kemudian cari di kolom pencarian aplikasi dengan memasukkan judul atau nama penulis ” Hinaan Dari Keluarga Suami” atau Rita Febriyeni” Atau kalian bisa mengklik link dibawah ini:

Link Baca: Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Fizzo Full Episode

Penutup

Demikianlah ulasan dari Shania tentang novel Hinaan dari Keluarga Part 16. Bagaimana cerita novel diatas? apakah benar sangat seru? Selamat membaca!

Leave a Reply

Your email address will not be published.